Cerita Hero Kunkka Dota 2

Persaingan antara Kunkka dengan Tidehunter adalah suatu hal yang terlihat jelas dalam cerita Dota 2, namun, apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka? Ingin tahu asal usul dari kekuatan sang Admiral yang dapat mengendalikan ombak hingga masa lalunya dengan Tidehunter? Yuk kita simak lore dari Kunkka, sang Admiral terakhir dari Kerajaan Cladd!
Kunkka mungkin adalah salah satu hero paling fleksibel yang ada dalam Dota 2. Dengan kemampuannya yang sangat beragam, hero ini dapat kamu gunakan sebagai seorang support ataupun carry. Namun, dibalik semua itu ternyata sang Admiral memiliki masa lalu yang cukup menyedihkan.

Di sebuah daratan yang dikelilingi oleh lautan, terdapat sebuah negara yang berdiri megah di tengah berbagai pulau kecil. Secara turun-temurun, para penduduk negara tersebut telah melatih diri mereka untuk mengarungi laut yang ganas, dan hal ini mungkin adalah alasan mengapa nama Cladd sangat dikenal oleh berbagai kerajaan besar lainnya.

Kekuatan dari armada laut dan rasa ingin tahu yang sangat besar adalah dua hal lain yang paling menonjol dari bangsa tersebut, dan tidak jarang Cladd mengirimkan kapalnya ke berbagai tempat misterius untuk memperluas pengetahuan mereka tentang lautan. Walaupun berita tentang kekuatan armada Cladd telah diketahui oleh semua orang, masih ada beberapa negara yang tetap mencoba untuk berhadapan langsung dengan pasukan tersebut. Sayangnya, tidak semua pertarungan berhasil mereka menangkan.

Terkadang armada Cladd pulang dengan berita bahagia tentang kemenangan mereka, dan terkadang tidak ada satupun dari armada tersebut yang kembali. Namun, dalam setiap kekalahannya Cladd justru semakin berkembang sebagai sebuah negara dan terus melatih kemampuan mereka untuk membuat kapal yang lebih kuat.

Tidak ada yang dapat mengalahkan dedikasi mereka untuk mempelajari setiap sudut lautan, ditambah lagi kematian bukanlah hal yang paling buruk bagi mereka. Para prajurit Cladd percaya bahwa saat tubuh mereka telah mati, arwah mereka akan kembali ke Dewa Laut dan tugas mereka di darat telah selesai. Kepercayaan ini adalah akibat dari pengaruh spiritual yang sangat hebat dari para petinggi negara tersebut. Walaupun dikenal karena kekuatan armadanya, kelompok yang sebenarnya paling dihormati dalam negara tersebut adalah para penyihir Cladd.

Di antara banyaknya pemimpin armada dari negara tersebut hanya ada satu orang yang paling dipercaya oleh para penyihir Cladd, seorang Admiral bernama Kunkka. Walaupun dirinya berasal dari keluarga nelayan, sejak kecil Kunkka telah melatih tubuh dan instingnya di tengah laut dengan berburu ikan paus. Kemampuan tersebut telah membuat Kunkka dapat dengan tenang memimpin pasukannya ke dalam pertempuran di tengah ombak yang ganas. Lautan seakan berada di bawah perintahnya dan Dewa Laut selalu melindungi dirinya. Sang Admiral juga berulang kali mendapat tugas untuk memimpin ekspedisi ke berbagai penjuru lautan. Walaupun dirinya tidak mengetahui apa alasan dibalik ekspedisi tersebut, Kunkka selalu mematuhi perintah para penyihir Cladd.

Rasa haus mereka akan ilmu pengetahuan telah membuat para penyihir semakin ingin memperdalam kemampuan mereka. Walaupun pada awalnya mereka bertujuan mulia, para penyihir Cladd tidak menyadari bahwa rasa ingin tahu mereka justru akan menjadi akhir dari Cladd dan penduduknya. Para penyihir Cladd dianggap sebagai sekelompok orang pilihan Dewa Laut, dan tidak ada yang berani untuk mempertanyakan perintah mereka. Dibawah pimpinan kelompok tersebut, Cladd terus berkembang menjadi negara yang kuat, namun, sebuah bahaya yang besar akan segera datang dari tempat yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.

Berbagai eksperimen sihir yang dilakukan oleh para penyihir Cladd ternyata telah menarik berbagai iblis ke negara mereka. Walaupun ini adalah pertama kalinya mereka harus melawan iblis, para penyihir Cladd langsung memberikan perintah kepada Admiral Kunkka untuk melindungi wilayah mereka. Dalam waktu singkat, berbagai pulau yang berada di sekeliling Cladd telah berubah menjadi medan pertempuran, dan hari-hari gelap bagi para penduduk Cladd baru saja dimulai. Dengan setiap iblis yang berhasil mereka kalahkan, kekuatan mistis terus membangkitkan pasukan tersebut sementara jumlah armada Kunkka semakin menipis. Walaupun sang Admiral adalah seorang veteran yang telah melewati ratusan peperangan, untuk pertama kalinya dia merasakan takut dalam benaknya – ini bukanlah pertempuran yang bisa dia menangkan.

Di tengah kebingungannya, sang Admiral dikejutkan oleh kemunculan sebuah kapal berisi pasukan dengan kekuatan yang jauh lebih hebat dari iblis yang dia lawan sebelumnya; satu per satu anggota pasukan yang dia percaya mulai berjatuhan, dan sang Admiral harus menerima kekalahan pertamanya. Menurut para nelayan, sebuah pusaran air berwarna hitam yang terbentuk di tengah laut menjadi sebuah pintu bagi kapal misterius tersebut, dan mereka yang dapat kembali ke pantai Cladd dengan selamat sempat melihat sebuah nama yang tertulis pada sisi kapal tersebut: Cataract.

Seperti berbagai kekalahan lainnya yang diterima oleh para pasukan Cladd, Kunkka kembali dengan kapal dan pasukan yang jauh lebih kuat untuk menghentikan gerakan kapal iblis tersebut. Peperangan di tengah lautan Cladd berjalan selama bertahun-tahun hingga jumlah pasukan negara tersebut semakin menipis sementara para iblis Cataract justru bertambah banyak.

Secara perlahan, para pasukan iblis mulai memasuki wilayah mereka hingga akhirnya tiba di Trembling Isles, sebuah pulau yang seringkali menjadi saksi dari pertempuran sang Admiral. Para iblis Cataract mulai merasakan adanya kelemahan di antara pasukan Cladd dan mengeluarkan senjata rahasia mereka. Sebuah pusaran air raksasa yang jauh lebih besar daripada sebelumnya telah terbentuk, dan dari dalamnya keluar sebuah kapal raksasa dengan ukuran yang sanggup menutupi matahari. Kunkka yang dikenal sebagai Admiral yang gagah berani mulai menyadari bahwa ini mungkin adalah pertempuran terakhirnya.

Rasa bersalah telah merasuki pikiran para penyihir Cladd, mereka sadar bahwa ilmu sihir yang mereka pelajari telah mengundang pasukan iblis untuk menyerang Cladd. Saat melihat satu per satu prajurit terkuatnya mulai berjatuhan, para penyihir tersebut memutuskan untuk melakukan tindakan terakhir mereka – sebuah ritual yang mengorbankan nyawa mereka demi mempertahankan Cladd.

Secara bergantian para penyihir tersebut membacakan mantra hingga sebuah cahaya mulai terbentuk dan menghisap habis energi mereka. Saat ritual tersebut selesai dan tubuh para penyihir sudah tidak bernyawa, cahaya tersebut memancarkan sebuah sinar yang membuat para para iblis dan pasukan Kunkka menghentikan pertarungan mereka untuk sesaat. Pada awalnya sang Admiral tidak percaya dengan apa yang dia lihat, berbagai kapal yang dia lihat telah hancur dihantam ombak kembali bermunculan dari dasar laut; satu-persatu arwah dari prajurit terkuat Cladd telah bangkit kembali untuk bertarung bersama mereka yang masih bertahan hidup – dan salah satu arwah bahkan merasuki pedang yang saat itu digunakan oleh Kunkka.

Saat dirinya kembali sadar, Kunkka dapat mengendalikan ombak dengan bantuan arwah yang berada dalam pedangnya. Rasa semangatnya kembali bangkit, dan dengan Dewa Laut di sisinya sang Admiral berhasil menghentikan gerakan kapal raksasa milik iblis Cataract. Kunkka menyaksikan secara langsung kekuatan dari para leluhurnya; kemampuan bertarung mereka jauh melebihi para iblis Cataract, dan secara perlahan pasukan iblis telah berhasil mereka pukul mundur. Sayangnya, perang tersebut tidak akan berakhir dengan kemenangan bagi para pasukan Cladd.

Selama ratusan tahun, lautan tersebut tidak pernah menyaksikan ilmu sihir yang sangat kuat, dan energi yang dipancarkan oleh ritual para penyihir Cladd telah membangkitkan sosok penguasa laut dari tidurnya, Maelrawn. Sebelum Kunkka berhasil melakukan serangan terakhirnya, awan gelap mulai bergerak menutupi langit hingga cahaya matahari kembali tidak terlihat. Badai petir dan ombak yang ganas mulai terbentuk di ujung matanya, angin yang berhembus telah menjadi semakin kuat – sesuatu yang besar akan segera datang. Baik pasukan iblis ataupun Cladd, keduanya tercengang saat melihat ombak raksasa yang bergerak ke arah mereka. Dalam sekejap, kedua pasukan tersebut telah kehilangan hampir setengah kapal mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *