Cerita Hero Rubick Dota

Rubick, salah satu hero intelligence di Dota 2 yang memiliki kemampuan dapat meniru spell hero lain. Dari manakah ia mendapatkan kekuatan tersebut? Lalu siapakah Rubick sebenarnya? Yuk simak cerita hero Dota 2 Rubick berikut ini. Cerita hero Dota 2 kali ini akan membahas tentang Rubick sang Grand Magus. Rubick memiliki kemampuan yang dapat meniru spell dari hero lain. Dengan kemampuannya tersebut membuat Rubick berbeda dari penyihir lainnya, untuk mengetahui cerita Rubick selanjutnya, yuk simak pembahasan berikut ini.

Sihir, membahas topik seputar sihir tidak pernah membuat kita bosan. Sihir sangat serba guna yang membuat orang-orang ingin menguasainya, memiliki ingatan yang kuat bukanlah hal yang wajib dimiliki jika ingin menguasai sihir. Faktanya, saat semua penyihir menghafalkan mantra bola api berhari-hari lamanya, ada seseorang yang dapat mengeluarkan sihir dengan hanya meniru orang lain. Semakin bertalenta seseorang semakin hebat pula dia, itulah perkataan para penyihir. Tetapi yang membuat dia terkena bukan hanya karena dapat meniru sihir orang lain.

Orang tersebut terkenal karena sihir dan juga peralatan sihir yang ia bikin, ia sangat dihargai dan ditakuti oleh penyihir di seluruh dunia. Bahkan penyihir yang kuat sekalipun takut hanya dengan menyebut namanya. Keringat dingin pun bercucuran saat memperkenalkan orang tersebut, namanya adalah Aghanim. Kali ini kita tidak akan menceritakan tentang Aghanim, tetapi menceritakan tentang anaknya yaitu Rubick. Rubick tumbuh sebagai penerus dari Aghanim, dia ingin seperti ayahnya dan tidak punya tujuan lain, ia ingin membanggakan ayahnya tersebut.

Rubick mulai menunjukkan afinitasnya terhadap sihir dan mempelajarinya tanpa ada kendala. Meskipun Rubick menunjukkan proses yang sangat cepat dalam mempelajari sihir ia merasa masih belum cukup dengan hal itu, dia merasa kurang karena tidak memiliki kehebatan ayahnya dalam membuat senjata sihir dan tidak memiliki bakat ayahnya dalam meniru sihir orang lain.

Aghanim selalu bangga dengan anaknya dan selalu marah jika Rubick merasa putus asa karena tidak memiliki bakat seperti dirinya. Suatu hari, pada saat latihan seperti biasanya, Aghanim memberikan karya terbaik miliknya kepada anaknya. Rubick diberikan sebuah tongkat yang memiliki permata, gagang emas dan memancarkan cahaya biru serta mempunyai kristal yang berbentuk seperti pedang pada ujung tongkat. ya itu adalah Aghanim’s Scepter dalam Dota 2.

Tongkat sihir tersebut merupakan perwujudan dari Aghanim itu sendiri, alasan mengapa Aghanim dapat meniru sihir orang lain karena tongkat sihir ini. Bahkan sihir yang ditiru pun jauh lebih kuat daripada aslinya. Tongkat sihir tersebut mengenali darah tuannya yang mengalir dalam tubuh Rubick dan mulai bertingkah diluar ekspektasi. Tongkat tersebut membangkitkan kemampuan Rubick yang ada sejak lahir yaitu dapat “meminjam” sihir orang lain dan juga meningkatkan kemampuan sihir Rubick serta meningkatkan harga dirinya.

Sayangnya, takut akan terjadi sesuatu yang membuat Rubick lepas kendali dengan kekuatannya sendiri, Aghanim mengambil kembali tongkat miliknya. Rubick merasa sangat kecewa, tetapi setelah ngobrol panjang dengan ayahnya, akhirnya ia mengerti dengan keputusan ayahnya tersebut. Dia belum siap untuk memiliki kekuatan yang sangat besar itu.

Rubick pun tumbuh besar sebagai lelaki dewasa, Rubick juga telah mendapatkan rasa percaya diri yang lebih tinggi dibandingkan dengan sebelumnya. Dengan rasa percaya diri tersebut ia lalu berkelana untuk membuktikan kekuatan yang ia miliki kepada ayahnya dan dirinya sendiri. Rubick berkelana dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan yang ia miliki dan nantinya ia dapat memegang kembali tongkat sihir legendaris milik ayahnya itu.

Beberapa orang melihat Rubick adalah satu-satunya kelemahan yang dimiliki oleh ayahnya, mereka pun berencana untuk menculiknya atau bahkan membunuhnya. Rubick melawan banyak assassin dan penyerang yang membuatnya tumbuh menjadi lebih kuat dalam pertarungan. Rubick bahkan mulai mencari penyihir berbakat untuk diajak berduel ia melakukan itu untuk mengetahui sihir apa saja yang digunakan oleh musuhnya dan menggunakan sihir dari musuhnya untuk memenangkan duel.

Tahun demi tahun pun berlalu, Rubick sudah terlalu kuat dan mulai tidak dapat menemukan musuh yang seimbang dengan dirinya. Rubick menginginkan untuk melawan mereka yang merupakan penyihir terbaik diantara yang terbaik di dunia ini. Dia bahkan tertarik melawan penyihir yang terkenal sebagai Arsenal Magus, ya dia adalah Invoker. Invoker adalah seorang penyihir yang sangat hebat dan memiliki sihir yang sangat kompleks, sihir itulah yang ingin Rubick “pinjam” menggunakan kemampuan miliknya.

Lalu Rubick pun melakukan sesuatu yang tidak terduga, yaitu mengumumkan akan membunuh seorang Magus, yaitu seorang penyihir tingkat tinggi. Perbuatan Rubick pun menuai kecaman dari komunitas Magus dari seluruh dunia, mereka tidak tahu apa yang diinginkan Rubick apakah ia ingin membunuh seorang Magus tertentu atau membunuh semua Magus yang ada dihadapannya.

Para Magus pun bersatu, mereka mengesampingkan permusuhan dan mulai bekerja sama dalam sebuah tim. Mereka pun menyerang Rubick, mereka mengandalkan pengetahuan dan pengalaman yang mereka miliki selama hidup. Tetapi Rubick sangatlah pintar dan sabar, ia memilih sendiri sihir pertahanan yang menurutnya terbaik. Rubick juga sangat memperhatikan musuhnya, ia menunggu hingga musuhnya mengeluarkan sihir yang hebat lalu “meminjam” sihir tersebut untuk digunakan kepada mereka.

Para Magus pun kebingungan dan mulai mencurigai rekannya yang dikira telah menghianati mereka, kelompok mereka pun pecah dan pada akhirnya mereka saling menyerang satu sama lain. Rubick pun melihat mereka dengan perasaan senang karena rencana yang ia miliki berjalan dengan sempurna.

Pertarungan berlangsung hingga satu minggu lamanya, pertarungan ini lebih tepat jika disebut dengan perang walaupun yang bertarung tidak lebih dari 20 orang tetapi kerusakan yang ditimbulkan sangat lah parah. Beberapa orang lumpuh dan terluka, tapi lebih banyak orang yang mati dibunuh Rubick atau rekannya sendiri.

Sang penantang yaitu Rubick berdiri dengan gagah, walaupun ia merasa sangat kelelahan tetapi pada akhirnya ia memenangkan pertarungan tersebut. Ia bangga dengan perbuatannya, tetapi juga merasa kecewa karena sang Arsenal Magus alias Invoker tidak menerima tantangannya, jika seandainya Invoker datang mungkin pertarungan tersebut akan menjadi pertarungan yang melegenda.

Meskipun begitu, Rubick mendatangi tempat dimana dewan sihir berada, Rubick pun diberi gelar sebagai Grand Magus. Dengan gelarnya itu, Rubick akhirnya telah pantas menggunakan tongkat sihir lengedaris milik ayahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *